Pantun: Seni Kata, Aturan Bermakna, Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga dan Mengandung Filosofis Mendalam

                                            flyer pertemuan ke-18 KBMN PGRI gelombang-32

Pertemuan ke-18 Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI gelombang-32 kali ini dibersamai oleh Miftahul Hadi, S.Pd. (biasa dipanggil mas Mif) sebagai narasumber dan Lely Suryani, S.Pd. SD. berperan sebagai moderator dengan mengusung topik Kaidah Pantun.

Selanjutnya mas Mif menyampaikan beberapa definisi pantun dari para pakar  diantaranya :

1. Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

2. Tuntun (Pampanga): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik, Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan (Hussain, 2019)

3. Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

4. Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)

5. Pantun merujuk kepada sesuatu yang teratur dan lurus, baik secara maujud (konkrit) maupun mujarad (abstrak) serta bertujuan memimpin, mendidik, dan memberikan panduan (Harun Mat Piah dalam Bakar, 2020)

6. Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020).

7. Pantun dengan akar kata “TUN” adalah sebagai kiasan atau perumpamaan dengan maksud mengandungi unsur-unsur pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

8. Kamus Bahasa Melayu Nusantara (2003) menjelaskan bahwa Pantun adalah sejenis peribahasa yang digunakan sebagai sindiran

Menurut mas Mif, pantun merupakan salah satu kekayaan seni verbal dalam budaya Indonesia. Keberadaannya tidak hanya sebagai bentuk puisi, tetapi juga menjadi bagian dari pertunjukan narasi. Contohnya adalah Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menggunakan struktur "pantun" untuk menyampaikan kisah sejarah, baik keagamaan maupun lokal, dengan diiringi genderang. Lebih lanjut, pantun juga menjadi pondasi dalam pertunjukan seni tradisional yang kompleks. Randai dari Minangkabau, Sumatera Barat, misalnya, memadukan musik, tari, drama, dan seni bela diri dengan unsur pantun, menjadikannya sebuah perpaduan seremonial yang spektakuler.
Pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020).

Selanjutnya mas Mif mengungkapkan bahwa ternyata pantun itu tidak hanya ada di suku bangsa Melayu di Pulau Sumatera dan sebagian Kalimantan. Tiap daerah memiliki kebudayaan yang hampir sama seperti pantun. Misalnya, menurut Suseno (2006) di Tapanuli pantun dikenal dengan nama ende-ende.
 Contoh:
Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.
Artinya:
Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.

Sedangkan di Sunda, pantun dikenal dengan nama paparikan.
 Contoh:
Sing getol nginam jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol naengan elmu,
Gunana dunya akhirat.
Artinya:
Rajinlah minum jamu,
Agar kuatlah urat,
Rajinlah menuntut ilmu,
Berguna bagi dunia akhirat.

Pada masyarakat Jawa, pantun dikenal dengan sebutan parikan.
Contoh:
Kabeh-kabeh gelung konde,
Kang endi kang gelung Jawa,
Kabeh-kabeh ana kang duwe,
Kang endi sing durung ana.
Artinya:
Semua bergelung konde,
Manakah yang gelung Jawa,
Semua telah ada yang punya,
Mana yang belum dipunya.
 
Fungsi Pantun
  • Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Jadi tidak boleh sembarangan ya bapak ibu, harus benar-benar dipikirkan pemilihan kata amupun pesan yang ingin disampaikan.
  • Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Ciri-ciri Pantun

Satu bait terdiri atas empat baris
Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata
Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata
Bersajak a-b-a-b
Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang
Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud

Mas Mif menambahkan bahwa pantun, sebagai warisan sastra lisan, memiliki ciri-ciri yang ketat dan tidak boleh diubah. Setiap bait pantun wajib terdiri dari empat baris, dengan setiap barisnya dianjurkan mengandung empat hingga lima kata untuk menjaga keindahan ritmenya. Selanjutnya, setiap baris harus memiliki delapan hingga dua belas suku kata, menciptakan pola irama yang khas. Rima pantun juga memiliki aturan baku, yaitu a-b-a-b, di mana baris pertama dan ketiga memiliki bunyi akhir yang sama, begitu pula baris kedua dan keempat. Dua baris pertama, yang disebut sampiran atau pembayang, berfungsi sebagai pengantar dan tidak mengandung pesan utama pantun. Pesan atau isi pantun baru disampaikan pada dua baris terakhir. Dengan struktur yang teratur ini, pantun menjadi bentuk puisi yang indah dan sarat makna.
Terkadang kita menemui pantun yang jumlahnya dua baris pantun dua baris itu disebut juga pantun kilat atau karmina
 perbedaan antara pantun, syair dan gurindam
 berikut contoh syair:

Ke sekolah janganlah malas,
Belajar rajin di dalam kelas,
Jaga sikap janganlah culas,
Agar hati tak jadi keras.

 kita lihat rima akhirnya, semua memiliki bunyi yang sama. itulah yang dinamakan sajak a-a-a-a-
baris satu sampai empat memiliki keterkaitan isi dan pesan
jadi tidak ada sampiran dan isi
 karena semuanya isi atau pesan

 contoh gurindam:

1. Jika selalu berdoa berdzikir,
        Ringan melangkah jernih berpikir.

2. Jika rajin zakat sedekah,
       Allah akan tambahkan berkah.

Tiap bait hanya dua baris, menyatakan sebab akibat, dan memiliki sajak a-a

Karmina, atau yang juga dikenal sebagai pantun kilat, merupakan bentuk puisi singkat yang hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama berfungsi sebagai sampiran, sementara baris kedua menjadi isi yang menyampaikan pesan. Ciri khas karmina terletak pada rima a-a, yang berarti kedua baris tersebut memiliki akhiran bunyi yang sama. Uniknya, meskipun disebut pantun kilat, antara sampiran dan isi dalam karmina tidak memiliki hubungan sebab akibat. Sampiran tidak menjadi bayangan bagi isi, melainkan berdiri sendiri sebagai pembuka. Karena singkatnya, karmina mudah diingat dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. 
[Contoh karmina

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Di penghujung acara mas Mif memberikan trik membuat pantun dalam hitungan detik Inilah triknya : Pertama, pahami betul kaidah dan ciri-ciri pantun, seperti jumlah baris, suku kata, dan rima. Kedua, perluas perbendaharaan kata agar mudah menemukan kata-kata berima. Kunci ketiga, carilah kata-kata dengan akhiran yang sama, minimal dua huruf terakhir, atau bahkan tiga huruf untuk hasil yang lebih baik. Dengan menguasai ketiga trik ini, merangkai pantun akan semudah membalikkan telapak tangan!

Untuk perbendaharaan kata, sering-seringlah  memadupadankan kata dengan rima yang sama.

kalau mentok ide, bisa googling di kuncitts.com untuk mecari kata dengan rima sama

                                                 contoh pembendaharaan kata untuk rima
Mari analisis pantun di bawah ini!

Memotong rebung pokok kuini,
Menanam bidara akar seruntun,
Mari bergabung di siang ini,
Dalam acara belajar pantun.

1. Rima akhir
Pohon nangka dililit bena lu,
Benalu runtuhkan batu ba ta,
Mari kita waspada sela lu,
Wabah penyakit di sekitar ki ta.

 2. Rima tengah dan akhir
Susun seja jar bungalah ba kung,
Terbang mene pi si burung e lang,
Giat bela jar marilah du kung,
Wujud mim pi Indonesia cemer lang.

3. Rima awal, tengah dan akhir
Jangan dipet ik si daun sir ih,
Jika tidak dengan gagangnya,
Jangan dius ik orang berkas ih,
Jika tidak dengan say angnya.

4. Rima lengkap
Bagai pat ah tak tumb uh lagi,
Reb ah sudah sela sih di ta man,
Bagai sud ah tak sul uh lagi,
Pat ah sudah ka sih ida man.

Demikianlah hasil belajar bersama mas Miftahul Huda, S.Pd. sang Raja Pantun. 
Semoga bermanfaat dan salam literasi!


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mitra Terbaik Penulis, Mengungkap Kemudahan Penerbitan di PT Andi Offset Yogyakarta

Merangkai Kata Mencipta Makna : Kekuatan Diksi dalam Seni Bahasa